Berita  

Yayasan CDA: Pertemuan Mualem dengan Presiden Momentum Penyelesaian Tiga Persoalan Penting Aceh

BANDA ACEH

Cakrawarta — Langkah Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf yang akrab disapa Mualem, menemui Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Istana Merdeka, Jakarta pada Rabu (4/11/2026), mendapatkan apresiasi dari Yayasan Cakra Donya Atjeh (CDA). Melalui pertemuan tersebut, Gubernur Aceh menyampaikan sejumlah persoalan strategis yang memerlukan perhatian langsung dari pemerintah pusat.

Bendahara Umum Yayasan CDA, Mustafarudin atau yang dikenal sebagai Nyak Din, menilai pertemuan ini sebagai langkah yang sangat penting guna memperjuangkan kepastian hukum atas tiga persoalan mendasar yang sedang dihadapi Aceh saat ini. Ketiga hal tersebut mencakup keberlanjutan Dana Otonomi Khusus (Otsus), penyelesaian persoalan Bendera Aceh, serta status tanah wakaf Lapangan Blang Padang.

Ia menegaskan bahwa pemerintah pusat perlu segera memberikan kejelasan mengenai ketiga persoalan tersebut agar tidak terus-menerus menimbulkan polemik dan ketegangan di kalangan masyarakat.

“Langkah Gubernur Aceh menghadap langsung Presiden Prabowo merupakan upaya yang positif. Kami berharap pemerintah pusat segera memberikan kepastian hukum terhadap tiga persoalan ini, sehingga masyarakat tidak terus berada dalam ketidakpastian,” ungkap Nyak Din.

Nyak Din juga mengingatkan bahwa Aceh adalah daerah bekas konflik yang masih menyisakan berbagai persoalan sosial dan luka masa lalu. Pengalaman masyarakat yang dahulu menjadi korban konflik, termasuk mereka yang pernah berstatus tahanan maupun narapidana politik, harus menjadi pertimbangan utama dalam setiap kebijakan dan penyelesaian masalah di Aceh.

Oleh karena itu, ia mengajak semua pihak untuk lebih mengutamakan jalur dialog, pendekatan yang persuasif, serta sikap saling menghormati. Menurut pandangannya, ketidakpastian hukum tidak boleh dibiarkan berubah menjadi gesekan sosial yang justru berisiko menimbulkan korban jiwa.

Yayasan CDA juga meminta seluruh jajaran pengurus di tingkat kabupaten maupun kota, para tokoh masyarakat, serta seluruh elemen masyarakat di Aceh untuk ikut aktif menjaga situasi, tidak mudah terprovokasi, serta senantiasa menjaga keamanan dan ketertiban bersama.

“Yang kita inginkan adalah Aceh yang aman, damai, dan sejahtera. Mari kita jaga persaudaraan serta membangun daerah ini dengan semangat kebersamaan,” pesan Nyak Din.

Sementara itu, Humas Yayasan CDA, Herman, menyampaikan keprihatinan yang mendalam atas jatuhnya korban jiwa dalam beberapa kejadian ketegangan yang terjadi belakangan ini. Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menahan diri, menjauhi sikap mudah terprovokasi, serta menjaga erat persaudaraan dan perdamaian yang telah terbangun di Aceh.

Herman juga mengingatkan masyarakat agar memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW dengan cara meneladani akhlak Rasulullah, khususnya dalam hal menjaga persatuan, mempererat tali persaudaraan, dan menjauhi segala bentuk permusuhan.

Dalam pesannya, Herman menyinggung kisah Abu Lahab, paman Nabi Muhammad SAW yang dalam riwayat populer disebut pernah bergembira saat mendengar kelahiran Rasulullah. Meski riwayat mengenai keringanan siksa yang diterima Abu Lahab pada hari Senin masih menjadi perdebatan di kalangan para ulama, Herman menilai kisah ini dapat menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

“Jangan sampai kita justru lebih buruk daripada Abu Lahab dalam menyikapi kelahiran Rasulullah. Kecintaan kita kepada Nabi harus diwujudkan melalui akhlak yang mulia, menjaga kedamaian, dan senantiasa mempererat persaudaraan,” tegasnya.

Yayasan CDA berharap pertemuan antara Gubernur Aceh dengan Presiden Prabowo Subianto tidak sekadar menjadi komunikasi politik sesaat, melainkan benar-benar ditindaklanjuti dengan langkah nyata guna mewujudkan kepastian hukum dan penyelesaian berbagai persoalan strategis yang ada di Aceh.

Selain itu, CDA mengajak seluruh masyarakat Aceh untuk bersatu menjaga suasana yang damai dan kondusif, agar pembangunan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat di Aceh dapat terus berjalan tanpa terganggu.

Sebagai penutup, Yayasan CDA menyampaikan pesan yakni,

“Aceh Beu Makmue, Rakyat Beu Carong, Agama Beu Kong, Belanja Beuna.”|Syehwan|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *