Berita  

Plafon Bocor dan Enam Ruangan Mubazir, Kondisi Puskesmas Lhokbengkuang Jadi Sorotan

ACEH SELATAN, Cakrawarta – Hanya berselang setahun sejak selesainya pekerjaan rehabilitasi, Puskesmas Lhokbengkuang di Kabupaten Aceh Selatan kini justru menjadi sorotan. Plafon PVC yang baru saja dipasang pihak proyek terlihat sudah banyak menampung air hujan yang menetes dari atap, menandakan adanya kebocoran yang serius.

Kepala Puskesmas Lhokbengkuang, Ridha Mutia, S.Kep., membenarkan kondisi tersebut saat dikonfirmasi, Senin, (19/10/2026) Ia menyebut tetesan air kerap terjadi di ruang antrean, dan diruangan lainnya, sehingga membuat para pasien merasa tidak nyaman saat menunggu pelayanan.

“Saat hujan, plafon meneteskan air. Di ruang antrean saja ada tetesan, pasien jadi tidak nyaman menunggu,” ujar Ridha.

Baru menjabat sekitar tiga minggu, Ridha mengaku belum mengetahui secara rinci lingkup pekerjaan rehabilitasi yang dilakukan setahun lalu. Berdasarkan informasi yang diterimanya dari staf lama, renovasi saat itu terbatas pada penggantian plafon dan perbaikan lantai poli anak, sedangkan atap hanya dicat ulang, tidak ada penanganan menyeluruh untuk mencegah kebocoran.

Ridha menambahkan, sepekan lalu ia telah mengundang pihak Dinas Kesehatan untuk meninjau langsung kondisi puskesmas sambil seloro, namun hingga kini belum ada tim yang datang ke lokasi.

Akibat kebocoran tersebut, sebanyak enam ruangan yang berada di lantai atas kini tidak dapat difungsikan. Berbagai unit pelayanan terpaksa dipindahkan ke lantai dasar, termasuk poli gigi yang dulunya menempati ruangan luas di lantai atas.

“Poli gigi butuh ruangan yang luas seperti yang ada di atas, tapi tidak bisa digunakan. Enam ruangan menganggur begitu saja, sangat disayangkan dan terbuang sia-sia,” ungkapnya.

Adapun masalah yang dihadapi tidak hanya soal fisik bangunan. Ridha juga menyoroti persoalan ketersediaan tenaga dokter. Dari sekitar 90 orang tenaga medis yang bertugas, hanya ada dua dokter, dan keduanya belum memiliki Surat Keputusan (SK). Kondisi ini membuat pelayanan terhambat, terutama di Unit Gawat Darurat (UGD) yang sering kali tidak ada dokter yang berjaga.

“Dokter ada dua orang tapi belum punya SK. Bagaimana kami bisa terlalu menuntut? Bahkan untuk insentif saja kami harus patungan antar-staf,” keluh Ridha.

Ia berharap Pemkab dan Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Selatan segera meninjau dan memperhatikan kondisi Puskesmas Lhokbengkuang secara menyeluruh, baik terkait perbaikan bangunan maupun status kepegawaian para tenaga medis.

“Saya berharap Dinas bisa lebih memperhatikan Puskesmas Lhokbengkuang ini, supaya ke depannya pelayanan di sini bisa lebih baik dan maju untuk masyarakat,” pungkas Ridha.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *