ACEH SELATAN, Cakrawarta – Ketersediaan pupuk bersubsidi di Kabupaten Aceh Selatan kembali menjadi sorotan tajam. Sejumlah petani mengeluhkan sulitnya mendapatkan jatah pupuk, bahkan bagi mereka yang sudah tercatat resmi dalam sistem e-RDKK. Bagi yang berhasil memperolehnya, jumlah yang diterima jauh di bawah kebutuhan luas lahan yang dikelola.
Adapun kondisi ini memicu kekhawatiran penurunan hasil panen sekaligus kenaikan biaya produksi. Pasalnya, banyak petani terpaksa membeli pupuk di harga pasar yang jauh lebih tinggi.
“Kuota pupuk subsidi tidak cukup. Kami yang sudah terdaftar di e-RDKK pun ada yang tidak kebagian. Dan kalau dapat, jumlahnya tidak sebanding dengan luas lahan kami,” ungkap seorang petani di Kecamatan Kluet Timur, Sabtu (10/10/2026).
Ia menilai, prosedur pengambilan pupuk sebenarnya kini lebih tertib. Setiap penerima wajib membawa KTP dan difoto saat pengambilan guna memastikan ketepatan sasaran. Namun perbaikan di sisi administrasi belum diimbangi dengan ketersediaan barang yang memadai.
“Sistemnya sudah lebih baik – bawa KTP dan difoto saat ambil. Tapi masalah utamanya di kuota yang terbatas. Beberapa waktu lalu pupuk urea sudah tersalurkan, sedangkan pupuk NPK sampai hari ini belum kami terima,” jelasnya.
Karena jatah subsidi minim, petani dihadapkan pada pilihan sulit: mengurangi dosis pemupukan sehingga tanaman kurang terawat, atau membeli pupuk non-subsidi yang harganya mencapai Rp 350.000 hingga Rp 400.000 per karung. Beban ini terasa sangat berat bagi petani bermodal terbatas.
“Kalau tidak dipupuk, hasil pasti turun. Kalau beli yang di luar, harganya nyaris dua kali lipat. Sangat memberatkan kami,” katanya.
Para petani meminta pemerintah daerah untuk segera mengupayakan penambahan alokasi pupuk subsidi, terlebih saat ini sedang memasuki musim tanam di mana kebutuhan pupuk meningkat tajam. Mereka juga meminta Dinas Pertanian Aceh Selatan turun langsung memantau stok di kios pengecer serta memverifikasi kesesuaian data e-RDKK dengan kondisi nyata di lapangan.
“Harapannya ini segera ditangani. Jangan sampai keterlambatan pupuk membuat kami gagal panen. Kasihan kami yang menggantungkan hidup dari sawah,” harapnya.|red|












