MEDAN, Cakrawarta – Menanam pohon di kawasan pesisir tidak cukup hanya dengan menanam bibit yang terlihat sehat. Keberhasilan penghijauan justru diukur dari berapa banyak pohon yang tetap hidup, sehat, dan berfungsi hingga tahun ketiga, bukan dari jumlah bibit yang tertanam. Pesan penting ini disampaikan dalam Pelatihan Penghijauan dan Penanaman Pohon Berbasis Masyarakat yang berlangsung di Kantor Camat Medan Belawan, Rabu (9/9/2026).
Kegiatan diselenggarakan oleh Baitulmaal Muamalat (BMM) selaku mitra pelaksana PT Pelindo Regional 1. Onrizal, Ph.D., dosen Fakultas Kehutanan Universitas Sumatera Utara, hadir sebagai narasumber yang menekankan prinsip “right tree, right place, right care” – pohon yang tepat, di tempat yang tepat, dengan perawatan yang tepat.
“Ukuran keberhasilan bukan berapa batang yang ditanam hari ini, melainkan berapa pohon yang tiga tahun lagi masih hidup, sehat, stabil, tidak mengganggu infrastruktur, dan benar-benar berfungsi,” tegas Onrizal.
Menurutnya, penanaman di Belawan memiliki tantangan tersendiri. Paparan panas aspal, tanah padat, ruang akar sempit, angin kencang, genangan, serta air pasang berkadar garam tinggi dapat menekan pertumbuhan pohon secara bersamaan. Pohon yang tahan kering belum tentu mampu bertahan jika akarnya terendam air asin berulang kali. Oleh karena itu, pemilihan jenis harus didasarkan pada pemeriksaan drainase, paparan garam, ruang tumbuh, jaringan utilitas, serta jarak pandang pengendara.
Dalam pelatihan tersebut, tiga jenis pohon menjadi fokus pembahasan: tabebuya kuning, angsana, dan gelodokan. Masing-masing memiliki keunggulan sekaligus keterbatasan. Tabebuya cocok sebagai tanaman hias pada tempat terbuka dengan drainase baik. Angsana mampu memberi keteduhan luas namun memerlukan ruang akar dan tajuk yang besar. Sementara gelodokan tumbuh ramping dan hemat ruang, meski tidak memberi naungan selebar angsana.
Peserta juga diingatkan bahwa pada median jalan selebar kurang dari dua meter, ketiga jenis tersebut tidak direkomendasikan. Di lokasi yang kerap terkena air pasang atau berkadar garam tinggi, penanaman massal sebaiknya menunggu hasil uji coba terbatas serta pemantauan menyeluruh.
Penghijauan pun dipandang sebagai investasi jangka panjang. Lubang tanam yang besar belum tentu menjamin pertumbuhan; yang lebih menentukan adalah volume tanah yang dapat ditembus akar, kualitas bibit, teknik penanaman, penggunaan mulsa, penyiraman, hingga perlindungan pasca-tanam. Pemantauan dijalankan hingga usia pohon mencapai 36 bulan, mencakup kondisi tajuk, pertumbuhan, stabilitas, serta potensi konflik dengan infrastruktur. Hasil pemantauan menjadi dasar perawatan maupun perbaikan rencana penanaman selanjutnya.
Kegiatan ini diharapkan menyamakan pemahaman teknis antara masyarakat, pemerintah setempat, dan Pelindo. Pohon di pinggir jalan bukan sekadar hiasan — jika dipilih dan dirawat dengan tepat, ia dapat menjadi penopang kenyamanan lingkungan sekaligus bagian penting dari infrastruktur hijau pesisir Belawan.
Pelatihan ini merupakan tindak lanjut peringatan Hari Lingkungan Hidup dan bagian dari upaya memperkuat kesadaran lingkungan masyarakat di sekitar Medan Belawan.|red|












