Berita  

Pastikan Kualitas dan Keberlanjutan MBG: SPPG Harus Tetap Menjadi Tumpuan, Kantin Sekolah Hanya Pendukung

ACEH UTARA, Cakrawarta – Penguatan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) harus menjadi prioritas utama guna menjamin kualitas, keamanan, serta keberlanjutan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Kantin sekolah dapat berperan sebagai pendukung, namun tidak semestinya menggantikan fungsi SPPG sebelum memiliki standar dan kapasitas yang setara.

Demikian ditegaskan Mulyadi, A.Md, selaku Mitra SPPG Aceh Utara Muara Batu Cot Trueng, dalam keterangannya, Jumat (11/9/2026).

Mulyadi menjelaskan bahwa SPPG bukan sekadar tempat memasak, melainkan sistem pelayanan terpadu yang mencakup perencanaan gizi, pengadaan bahan pangan, pengolahan, pengawasan mutu, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat. Seluruh tahapan tersebut harus berjalan dengan standar, pengawasan, dan penanggung jawab yang jelas.

“SPPG harus dipandang sebagai sebuah sistem pelayanan pemenuhan gizi, bukan hanya sebagai dapur produksi. Karena itu, seluruh prosesnya harus memiliki standar, pengawasan, dan penanggung jawab yang jelas agar kualitas makanan yang diterima masyarakat benar-benar terjamin,” ujarnya.

Ia menilai keberadaan kantin sekolah tetap bermanfaat bagi aktivitas pendidikan, namun belum tentu siap memproduksi makanan secara konsisten dalam skala besar dengan standar gizi dan keamanan pangan yang ketat sebagaimana dijalankan SPPG.

“Kantin sekolah bisa menjadi bagian dari ekosistem pendukung, tetapi jangan sampai menggantikan fungsi SPPG tanpa terlebih dahulu memastikan standar gizi, keamanan pangan, kapasitas produksi, dan tata kelolanya benar-benar terpenuhi,” tegas Mulyadi.

Ia juga mengingatkan bahwa pembangunan ekosistem SPPG telah memakan investasi besar, baik dari segi sarana prasarana, sumber daya manusia, maupun sistem pengawasan. Ekosistem yang telah matang ini tidak boleh dibiarkan melemah karena pengalihan fungsi tanpa jaminan kesetaraan standar.

Mulyadi menambahkan, sekolah dan SPPG justru harus bersinergi — sekolah sebagai pusat penerima dan pendampingan manfaat, sementara SPPG menjamin pemenuhan gizi sesuai sistem yang telah dibangun.

“Program MBG merupakan program jangka panjang. Keberhasilannya tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang tersalurkan, melainkan dari kualitas gizi, keamanan pangan, ketepatan sasaran, serta kesinambungan pelayanan yang dapat dipertanggungjawabkan,” pungkas Mulyadi.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *