Cakrawarta – Pasar bukan sekadar tempat jual-beli. Di sanalah denyut nadi perekonomian rakyat terlihat paling nyata. Saat harga cabai menyentuh Rp65.000 per kilogram, bawang merah dan putih di kisaran Rp30.000–Rp35.000 per kilogram, dan komoditas lainnya ikut merangkak naik, maka yang terasa bukan sekadar angka di papan harga, melainkan beban nyata di pundak setiap keluarga.
Kenaikan harga sayur dan bahan pangan di pasar-pasar tradisional belakangan ini sungguh membebani masyarakat. Ibu rumah tangga yang biasanya dapat menyiapkan hidangan bergizi dengan anggaran terjangkau, kini harus berpikir berulang kali sebelum memegang timbangan. Tak jarang, piring makan keluarga terpaksa berkurang isinya; menu bergizi bergeser menjadi apa saja yang masih sanggup dibeli.
Berbagai alasan kerap dikemukakan: cuaca yang tidak menentu mengganggu masa tanam dan panen, biaya angkut yang tinggi, hingga rantai distribusi yang masih panjang. Namun bagi masyarakat, alasan-alasan itu perlahan menjadi penjelasan yang makin sulit diterima ketika dompet terus menipis sementara kebutuhan perut tidak bisa ditunda. Kenaikan harga yang terjadi bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan tekanan berkelanjutan yang menggerus daya beli, terutama bagi berpenghasilan pas-pasan.
Kondisi ini memanggil tanggung jawab semua pihak, khususnya pemerintah daerah. Pemantauan harga di pasar tidak boleh hanya sekadar pencatatan angka. Harus ada tindakan nyata: menjaga kelancaran pasokan, memotong rantai yang tidak perlu, menindak tegas permainan harga, hingga mendorong produksi pangan lokal agar tidak bergantung pada pasokan dari jauh. Program ketahanan pangan yang selama ini digalakkan harus benar-benar terasa manfaatnya, bukan sekadar wacana di atas kertas.
Kesejahteraan masyarakat tidak diukur dari besarnya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan dari kemampuan warga memenuhi kebutuhan paling dasar: makan yang layak dan bergizi. Jika harga sayur saja sudah menjadi beban berat, maka apa gunanya kemajuan yang dibanggakan?
Sudah saatnya semua pihak bergerak cepat. Jangan biarkan masyarakat makin kewalahan hanya untuk memenuhi kebutuhan piring makan mereka sendiri.[red]












