Berita  

Ketua Satgasus Pidie Prihatin Polemik Bendera Bulan Bintang: Minta Diselesaikan Secara Bijaksana

PIDIE, Cakrawarta — Ketua Satuan Tugas Khusus (Satgasus) Kabupaten Pidie, Rizal Aiyubi, menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden yang melibatkan Bendera Bulan Bintang dalam rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW baru-baru ini. Ia meminta pemerintah daerah maupun pusat menaruh perhatian serius guna menyelesaikan persoalan tersebut dengan bijaksana agar tidak terulang di masa mendatang.

Aiyubi menegaskan, peringatan Maulid Nabi seharusnya menjadi momen mempererat ukhuwah dan persatuan, bukan pemicu perpecahan. Oleh karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat maupun aparat untuk menyikapi masalah ini dengan tenang, mengutamakan dialog, dan menghindari langkah yang berpotensi memperkeruh suasana.

“Kami sangat menyayangkan kejadian ini. Setiap persoalan hendaknya diselesaikan melalui dialog dan sikap saling menghormati. Kedamaian Aceh harus tetap menjadi kepentingan bersama,” ujar Aiyubi.

Perlunya kejelasan aturan hukum

Menurut Aiyubi, polemik yang terjadi menandakan masih adanya perbedaan pemahaman di kalangan masyarakat terkait aturan penggunaan Bendera Bulan Bintang. Untuk itu, diperlukan penjelasan hukum yang menyeluruh dan resmi agar tidak menimbulkan keresahan berkelanjutan.

Ia menegaskan, Qanun Aceh Nomor 3 Tahun 2013 tentang Bendera dan Lambang Aceh merupakan bagian dari kekhususan Aceh yang harus dipahami sejalan dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Komunikasi terbuka antara Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat dinilai krusial untuk menyamakan pemahaman sekaligus memberikan pedoman yang jelas kepada masyarakat.

“Kepastian hukum sangat penting agar setiap persoalan dapat disikapi berdasarkan aturan yang jelas. Dengan begitu, kesalahpahaman yang berpotensi menimbulkan ketegangan di lapangan dapat dicegah,” tambahnya.

Jaga kedamaian melalui dialog

Penyelesaian masalah ini, kata Aiyubi, harus tetap mengacu pada Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh serta peraturan terkait lainnya. Pemerintah diminta membuka ruang dialog yang melibatkan berbagai pihak guna menemukan solusi yang adil dan dapat diterima semua pihak.

Selain itu, tokoh agama dan tokoh masyarakat diharapkan turut aktif menyejukkan suasana dan mengingatkan kembali pada nilai-nilai Maulid Nabi, yaitu kasih sayang, kesabaran, dan persaudaraan.

“Harapan kita, Aceh tetap damai dan masyarakat merasa tenang. Jangan biarkan perbedaan pemahaman menjadi persoalan berkepanjangan. Mari kita cari titik temu melalui dialog, kepastian hukum, dan semangat kebersamaan,” pesan Aiyubi di akhir pernyataannya.|Syehwan|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *