Berita  

Distanbun Aceh Bahas Percepatan Pemulihan 57 Ribu Hektare Lahan Pertanian Terdampak Bencana

BANDA ACEH, Cakrawarta – Sebanyak 57 ribu hektare sawah di Aceh terdampak bencana hidrometeorologi. Pemulihan lahan tersebut kini menjadi fokus utama pembahasan antara Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Aceh bersama Sekretariat Bersama (SEKBER) Aceh Relawan Pemenangan Mualem-Dek Fadh, guna mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi lahan masyarakat.

Pertemuan berlangsung di Banda Aceh dengan dihadiri Sekretaris Jenderal SEKBER Aceh, Irwan Syahputra atau yang akrab disapa Syech Wan, serta Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Distanbun Aceh, Dr. Ir. Azanuddin Kurnia, SP, MP. Diskusi mencakup mekanisme pelaksanaan, pendataan lahan, kendala administrasi hingga langkah mempercepat pemulihan agar warga dapat kembali mengelola lahannya.

Syech Wan menyampaikan masyarakat masih menunggu kepastian realisasi pemulihan. Ia menegaskan proses rehabilitasi tidak boleh berhenti sekadar pada pendataan atau kegiatan seremonial, melainkan harus berwujud pekerjaan nyata yang dirasakan langsung di lapangan.

“Masyarakat jangan hanya mendengar rencana, tetapi harus melihat lahan mereka kembali pulih dan bisa ditanami. Kalau lahan pertanian kembali produktif, insyaallah ekonomi masyarakat juga akan lebih cepat bangkit,” ujar Syech Wan.

40 Ribu Hektare Masuk Proses Pemulihan

Dari 57 ribu hektare lahan terdampak, sekitar 40 ribu hektare mengalami kerusakan ringan hingga sedang dan kini sedang dipulihkan. Distanbun menargetkan penyelesaian pemulihan 40.852 hektare sepanjang 2026. Hingga 25 Agustus 2026, realisasi fisik telah mencapai 10.333 hektare di 16 kabupaten/kota dengan serapan anggaran rata-rata 52,9 persen. Pemerintah menargetkan lahan yang telah pulih dapat dimanfaatkan petani pada musim tanam Oktober 2026.

Sementara itu, sekitar 16.276 hektare sawah mengalami kerusakan berat dan memerlukan penanganan khusus. Pemerintah Aceh kini memperkuat koordinasi dengan Kementerian Pertanian serta Kementerian ATR/BPN untuk kajian biaya, survei, hingga pemetaan batas lahan terdampak.

Didorong Bergerak Lebih Cepat

Syech Wan yang juga menjabat Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, meminta dinas pertanian di tingkat kabupaten/kota bersama para penyuluh gampong bekerja lebih intensif — mulai dari pendataan, pemantauan kondisi lahan hingga pendampingan petani. Faktor cuaca dan musim hujan juga perlu diperhitungkan agar pelaksanaan di lapangan tidak terkendala kembali.

Ia menegaskan jaringan SEKBER Aceh — yang membawahi berbagai lembaga, yayasan dan kelompok relawan — siap membantu mendukung percepatan pemulihan sesuai arahan Pembina SEKBER Aceh, Muzakir Manaf atau Mualem-Dek Fadh.

Pengalaman keterlibatan relawan saat bencana lalu menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas pihak. Oleh karena itu, pemulihan tidak hanya soal penyelesaian administrasi, melainkan pembersihan material bencana, perbaikan lahan, pemulihan infrastruktur, penyediaan sarana produksi hingga penanaman kembali.

Gubernur Aceh Muzakir Manaf juga telah meminta seluruh program pertanian tahun 2026 dilaksanakan sesuai aturan dan dimanfaatkan secara optimal untuk mempercepat pemulihan sektor pertanian. Di Aceh Tamiang, misalnya, proses rehabilitasi telah diikuti tanam perdana padi pada Juli lalu. Meski begitu, cuaca dan aksesibilitas masih menjadi kendala di sejumlah wilayah.

Karena itu, sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, TNI, kelompok tani dan elemen masyarakat terus diperkuat. Tujuannya agar pemulihan berjalan cepat, tepat sasaran, dan mengembalikan produktivitas lahan serta sumber penghidupan masyarakat Aceh.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *