ACEH SELATAN, Cakrawarta – Suara keberatan warga terhadap rencana kegiatan pertambangan emas di wilayah Kecamatan Samadua, Kabupaten Aceh Selatan, semakin nyaring dan menyatu. Tokoh masyarakat setempat bersama ratusan warga dari tiga desa di kawasan Air Sialang secara tegas menyatakan penolakan mereka, lantaran khawatir eksploitasi tambang akan merusak alam sekaligus mengancam masa depan kehidupan mereka.
Pernyataan sikap itu disampaikan dalam forum edukasi lingkungan dan musyawarah warga yang berlangsung di Masjid At-Taqwa, Desa Air Sialang, Jumat (31/7/2026). Kegiatan ini dihadiri penuh oleh masyarakat dari Desa Air Sialang Hilir, Air Sialang Tengah, hingga Air Sialang Hulu.
Tokoh masyarakat Samadua, Tgk. Miswar, menjelaskan bahwa kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Kawasan Air Sialang memiliki peran sangat vital sebagai penyangga lingkungan sekaligus sumber mata air dan lahan pertanian yang menjadi tumpuan hidup sehari-hari warga.
“Kami menolak rencana tambang di sini karena dampak buruknya jauh lebih besar daripada keuntungan yang dijanjikan. Kalau alam rusak, kitalah yang akan menanggung akibatnya. Mulai dari banjir, tanah longsor, sumber air bersih menyusut, sampai lahan pertanian yang jadi sumber makan kami terganggu,” tegas Tgk. Miswar di hadapan warga.
Ia pun menegaskan, masyarakat tidak anti terhadap kemajuan. Namun, setiap langkah pembangunan harus menjamin keselamatan rakyat dan menjaga kelestarian alam. Jangan sampai kekayaan alam diambil habis, sementara generasi ke depan hanya mewarisi kerusakan.
“Kami tidak menolak pembangunan, tapi pembangunan itu tidak boleh merugikan rakyat dan menghancurkan alam. Jangan sampai sumber daya alam diambil, lalu kami yang tinggal membersihkan puing-puing kerusakan dalam waktu yang sangat panjang,” ucapnya.
Dalam forum itu juga dipaparkan data bahwa PT Mineral Mega Sentosa memegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) eksplorasi emas di wilayah seluas sekitar 739 hektare di Samadua.
Hadir sebagai narasumber, Guru Besar Universitas Syiah Kuala sekaligus dosen Pascasarjana, Prof. Abdul Halim, mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan alam sesuai ajaran agama. Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa kerusakan di darat dan laut terjadi akibat ulah tangan manusia.
Prof. Abdul Halim juga mengingatkan kembali pelajaran pahit dari bencana banjir bandang yang sempat melanda sejumlah daerah di Aceh. Hingga kini, banyak warga terdampak belum pulih sepenuhnya, kehilangan tempat tinggal dan mata pencaharian, serta masih menyimpan trauma mendalam.
“Hampir setahun berlalu sejak banjir bandang itu, tapi penderitaan warga belum selesai. Ini pelajaran berharga, jangan sampai hal yang sama terulang di Samadua. Mencegah kerusakan jauh lebih baik daripada menyesal setelah bencana datang,” katanya.
Selain berbagi pandangan, kegiatan ini juga menjadi ruang bagi warga untuk belajar memahami fungsi ekosistem, mengenali risiko kegiatan pertambangan, serta menyampaikan aspirasi secara damai dan tertib.
Musyawarah berjalan penuh kekeluargaan. Warga berharap pemerintah maupun pihak terkait membuka ruang diskusi secara transparan, melibatkan masyarakat sejak awal, serta mempertimbangkan aspek lingkungan dan kesejahteraan warga sebelum mengambil keputusan apapun terkait pemanfaatan alam di wilayah mereka.
Adapun kegiatan ini difasilitasi oleh Forum Air Sialang Bersatu (ASB), wadah yang menjadi tempat warga menyuarakan aspirasi terkait pengelolaan sumber daya alam di tanah kelahiran mereka.|red|












