Cakrawarta– “Jangan rusak kebanggaan. Masuk PWI butuh perjuangan, surat tugas harus diregistrasi, dan anggota muda wajib ikut tes untuk mendapatkan Kartu Tanda Anggota (KTA) Biru.”
Demikian disampaikan Sudirman Hamid, mantan Sekretaris PWI Aceh Selatan yang kini menjabat Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kabupaten Aceh Selatan, saat mengenang perjalanan panjangnya di dunia kewartawanan dan keanggotaan PWI, Sabtu (7/11/2026).
Berawal dari naskah di secarik kertas HVS
Sudirman mengenang, pertama kali terjun ke dunia jurnalistik pada tahun 2007. Saat itu, ia aktif di salah satu partai politik di Kabupaten Aceh Selatan. Berkat dorongan teman-teman yang melihat potensi dirinya, dan atas ajakan almarhum Dinar Nyak Idin, ia mulai mengisi rubrik di Mingguan Orbit, terbitan Medan, Sumatera Utara.
“Saya mencoba memberanikan diri untuk menulis naskah berita pada secarik kertas HVS. Saat itu belum tahu cara membuat email. Naskah berita dikirim melalui pos ke Bang Dinar di Medan,” kenang Sudirman. Komunikasi saat itu masih mengandalkan telepon kabel, faksimile, dan jasa Pos Giro. Penggunaan komputer dan laptop masih sangat terbatas. Jumlah wartawan di Aceh Selatan saat itu pun baru sekitar tujuh orang, belum banyak media siber, hanya media cetak dan elektronik.
Ternyata karya tulisnya dimuat di koran. Koran itu dikirim dari Medan menggunakan mobil angkutan. Sejak saat itu, ia makin tertarik menjadi wartawan.
Menerobos gerbang organisasi tertua
“Sungguh sulit untuk menerobos gerbang rumah besar — organisasi wartawan tertua di Indonesia ini,” ujarnya. Saat itu, Ketua PWI Aceh Selatan dijabat almarhum Zamzamy Surya, S.Pd, M.M, dan PWI Aceh diketuai Bang Dahlan. Keinginan bergabung di PWI terpatri kuat di hatinya, karena ia melihat ada kemuliaan dan persaudaraan yang terjalin di dalamnya.
Namun menjadi anggota PWI ternyata tidak mudah. Butuh proses, ujian, dan seleksi ketat. Selama bertahun-tahun, surat tugasnya diregistrasi oleh Ketua PWI Aceh baru kemudian ia dinilai aktif berkarya dan diusulkan menjadi anggota muda. Ia tekun mengikuti pendidikan dan pelatihan kewartawanan, termasuk pelatihan bersama Abdul Halim yang kini menjabat Ketua PWI Aceh Utara.
Lulus ujian, naik jenjang
Berkiprah di Harian Orbit, kemudian bergabung dengan Jawa Pos Group melalui Harian Rakyat Aceh pada 2011, serta media siber GoAceh, Kantor Berita One, Antaran.id, hingga kini mengelola INFORakyat.co, langkahnya terus ia bangun.
Setelah empat tahun sebagai anggota muda, tepat 21 November 2013, ia lulus ujian peningkatan status menjadi anggota biasa. Tak berhenti di situ, pada 12–13 Desember 2013, ia juga mengikuti dan lulus Uji Kompetensi Wartawan (UKW), dengan sertifikat yang ditandatangani Ketua Umum PWI Pusat Margiono dan Sekjen Hendri CH Bangun. Kini, ia telah menyandang UKW jenjang Madya hasil ujian angkatan ke-20 di Lhokseumawe, Desember 2025.
Persaudaraan yang tak lapuk hujan
“Bukan soal tapal batas peningkatan status semata. Sesungguhnya nadi persaudaraan dan persahabatan di PWI itu sungguh membanggakan,” ungkapnya. “Banyak teman dari kabupaten/kota menjadi persaudaraan, saling bersilaturahmi dan membantu. Seperti tidak lapuk terkena hujan dan tidak lekang diterpa panas.”
Menjelang Konferensi Provinsi (Konferprov) PWI Aceh ke-XIII, Sudirman mengajak seluruh elemen keluarga besar PWI untuk tetap menjaga kebersamaan.
“Jangan terprovokasi. Tidak perlu membuka kran perselisihan. Bencalang sudah berlalu menuju Pulau Banyak; seorang berbuat keliru akan mengganggu orang banyak. Simpatisan itu muncul dari lubuk hati paling dalam, bukan karena komentar dan bujuk rayu,” pesannya.
“Pilih pemimpin sesuai hati nurani, dukung hasil musyawarah. Wartawan PWI itu orang-orang cerdas dan bijaksana. Mari berbuat baik, menebar senyuman, merajut silaturahmi. Perbedaan itu biasa, perselisihan patut disingkirkan. Masa depan PWI Aceh lebih penting dari segalanya.”|red|












