Berita  

Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi II Resmi Ditutup, Lahirkan 5 Resolusi Strategis

BANDA ACEH, Cakrawarta – Rangkaian kegiatan Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II resmi berakhir pada Minggu (11/10/2026) di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tiga hari pertemuan ulama lintas negara ini menghasilkan kesepakatan penting untuk memperkuat persatuan umat sekaligus mewujudkan perdamaian yang berlandaskan ajaran tauhid dan tasawuf.

Dipimpin langsung oleh Abuya Syekh H. Amran Waly Al-Khalidy, pertemuan bertema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat” ini dihadiri ulama dan peserta dari 11 negara, antara lain Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Thailand, Kamboja, Palestina, Suriah, Maroko, Mesir, dan Tunisia. Kehadiran mereka menegaskan pentingnya dialog keilmuan lintas bangsa untuk memperkokoh ukhuwah Islamiyah.

Dukungan Ulama Suriah

Salah satu momen paling menyentuh pada penutupan ini adalah apresiasi yang disampaikan oleh Syekh Muhyidin Abdurrazak dari Suriah. Ia menyatakan dukungan penuh terhadap perjuangan Abuya Amran Waly dalam menghidupkan forum muzakarah di tingkat internasional.

“Kumpulnya kita di sini adalah bukti bahwa ajaran tauhid dan tasawuf menjadi perekat persaudaraan umat Islam di mana pun berada,” ujar Syekh Muhyidin. Ia juga mendoakan agar ilmu dan perjuangan Abuya Amran Waly senantiasa menjadi penerang bagi umat manusia.

Sebagai tanda penghormatan dan ikatan keilmuan, Syekh Muhyidin menyerahkan sebuah kitab kepada Abuya Amran Waly. Prosesi sederhana namun bermakna ini menggambarkan eratnya hubungan antar ulama lintas negara yang terjalin selama kegiatan berlangsung.

Lima Resolusi Muzakarah

Forum ini mencatat lima butir resolusi yang menjadi arah kebijakan bersama para ulama ke depan:

1. Memperkuat tauhid dan nilai ihsan sebagai fondasi kehidupan masyarakat yang beriman dan berakhlak mulia.
2. Membina akhlak al-karimah melalui pengamalan ajaran tauhid dan tasawuf dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat.
3. Mendorong sinergi ulama dan pemimpin untuk memperkuat nilai-nilai keimanan dan kebangsaan yang berkeadilan.
4. Mengajak ulama internasional berperan aktif memajukan peradaban Islam sekaligus menjunjung tinggi nilai kemanusiaan universal.
5. Mengundang pemerintah dan masyarakat bekerja mewujudkan tata kelola yang baik, kesejahteraan rakyat, serta keadilan sosial.

Resolusi ini diharapkan tidak sekadar menjadi dokumen forum, tetapi diterjemahkan ke dalam langkah nyata di tengah masyarakat.

Dampak Ekonomi dan Posisi Aceh

Kehadiran peserta dari berbagai daerah dan negara selama tiga hari ini juga memberikan dampak positif bagi perekonomian warga sekitar, terutama bagi pelaku UMKM, pedagang makanan, dan jasa transportasi. Kegiatan keagamaan berskala internasional terbukti dapat membawa berkah ganda: memperkuat ikatan spiritual sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Penasihat kegiatan, Abi Syukri Daud Pango, menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan muzakarah ini semakin memperkokoh posisi Aceh sebagai pusat pertukaran keilmuan Islam yang terbuka bagi dunia internasional.

“Dengan berakhirnya muzakarah ini, semangat persatuan, akhlak mulia, dan perdamaian tidak berhenti di sini — melainkan menjadi komitmen bersama yang terus dikembangkan, baik di Aceh maupun di tingkat internasional,” harapnya.|syehwan|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *