BANDA ACEH, Cakrawarta – Antusiasme masyarakat terhadap Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II melampaui ekspektasi. Selama dua hari berturut-turut, Gedung Meuseuraya Aceh beserta kawasan sekitarnya dipadati jamaah dari berbagai penjuru, bahkan membuat kapasitas gedung tidak lagi memadai untuk menampung seluruh peserta, (10/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung 9–11 Oktober 2026 ini mengangkat tema “Mengangkat Ajaran Tauhid Sufi untuk Kesatuan dan Perdamaian Umat”. Pada hari pertama saja, jumlah peserta di dalam aula utama mencapai lebih dari 1.200 orang — jauh melampaui kapasitas yang semula direncanakan untuk sekitar 500 undangan istimewa. Lantai dasar penuh sesak, balkon, selasar, hingga anak tangga pun tak terisi sisa. Sebagian jamaah terpaksa berdiri sepanjang acara berlangsung.
Sementara itu, di luar gedung, jumlah masyarakat yang hadir diperkirakan mencapai puluhan ribu jiwa. Panitia menyebutkan angka sekitar 50.000 pengunjung telah hadir dalam rangkaian kegiatan terbuka tersebut. Kepadatan ini turut berdampak pada arus lalu lintas di sekitar lokasi kegiatan.
Memasuki hari kedua, Sabtu (10/10/2026), minat masyarakat justru semakin tinggi. Jamaah tak hanya berasal dari berbagai kabupaten/kota di Aceh, tetapi juga dari daerah lain di Indonesia, serta delegasi ulama dari 21 negara. Turut hadir perwakilan dari Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, Mesir, Palestina, dan sejumlah negara lainnya.
Panitia: Kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar
Sekretaris Panitia, Tgk. Agus Ramadhan, menyebut kehadiran masyarakat yang luar biasa ini menjadi kebanggaan sekaligus tantangan tersendiri.
“Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Jamaah terus berdatangan dan memenuhi kawasan kegiatan. Ini menjadi kebahagiaan bagi panitia sekaligus tanggung jawab untuk memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan nyaman,” ujarnya.
Panitia juga meminta kesadaran bersama dari seluruh jamaah untuk tetap tertib dan mengikuti arahan petugas di lapangan, mengingat tingginya kepadatan di lokasi.
Kembali menghidupkan khazanah tasawuf Aceh
Ketua Umum MPTT-Indonesia, Abi Sahal Tastari Waly, menegaskan muzakarah ini menjadi momentum penting untuk memperkenalkan kembali khazanah tasawuf Aceh ke panggung dunia. Tradisi tasawuf yang diwarisi tokoh-tokoh besar seperti Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili diharapkan kembali menjadi pedoman hidup melalui pembinaan akhlak dan pembersihan hati.
Penasihat panitia, Abu Syukri Daud Pango, juga berharap ajaran sufi tidak hanya menjadi warisan sejarah, tetapi kembali tumbuh dan memperkuat ukhuwah Islamiyah serta persaudaraan antarumat beragama.
Kegiatan ini dijadwalkan berakhir pada Minggu (11/10/2026) dengan agenda penyusunan risalah akhir muzakarah. Keberhasilan acara ini sekaligus membuktikan bahwa dari Serambi Mekkah, pesan persatuan dan perdamaian umat terus bergema, didukung oleh antusiasme masyarakat yang tak pernah surut.|red|












