ACEH SELATAN, Cakrawarta – Program unggulan Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan, Bajak Sawah Gratis (BASAGA), yang menjadi salah satu poin visi-misi Bupati H. Mirwan MS, justru menuai kekecewaan di kalangan petani. Kecamatan Kluet Timur yang ditetapkan sebagai wilayah prioritas pelaksanaan tahun 2026, kini menjadi saksi tersendatnya pengolahan lahan pertanian.
Memasuki awal Oktober 2026, realisasi pembajakan sawah di Kluet Timur belum mencapai target. Keterlambatan disebabkan keterbatasan jumlah armada traktor, bahkan dua unit di antaranya dikabarkan rusak dan tidak beroperasi di lapangan. Akibatnya, jadwal tanam yang seharusnya berlangsung pada September tertunda hingga kini.
Ketua Forum Keuchik Kecamatan Kluet Timur sekaligus Keuchik Gampong Lawe Sawah, Mukrizan, menyampaikan keluhan warga, senin (12/10/2026). Di wilayahnya, dari total 113 hektare lahan, baru 45 persen yang selesai dibajak.
“Masyarakat kecewa dan mengeluh. Dua traktor yang ada juga rusak. Petani sangat dirugikan,” ungkap Mukrizan.
Ia meminta Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Selatan menangani pelaksanaan BASAGA secara lebih serius, termasuk menambah ketersediaan alat mesin pertanian (alsintan) di lapangan.
“Kami mohon dinas terkait lebih serius menangani ini. Supaya waktu tanam tidak terus tertunda. Kalau begini terus, BASAGA bukan membantu, tapi menyusahkan petani,” tegasnya.
Adapun keterlambatan tanam dikhawatirkan berdampak pada masa panen dan berisiko menurunkan hasil produksi jika berpapasan dengan perubahan cuaca.
Keluhan serupa datang dari warga Gampong Lawe Buluh Didi. Seorang petani yang enggan disebutkan namanya mengaku belum pernah melihat satupun traktor BASAGA beroperasi di desanya.
“Sudah lama kami menunggu, sampai sekarang belum ada traktor datang. Yang ada hanya milik pribadi,” keluhnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Selatan terkait kendala pelaksanaan program tersebut.|red|












