BANDA ACEH, Cakrawarta – Langit Banda Aceh tampak berbeda Jumat (9/10/2026). Ribuan warga, ulama, dan tokoh keagamaan dari berbagai penjuru dunia berkumpul di Kota Serambi Mekkah untuk menandai pembukaan resmi Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II Tahun 2026. Selama tiga hari hingga 11 Oktober mendatang, forum ini menjadi ruang dialog keilmuan yang mengangkat tema: “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Perdamaian dan Persatuan Umat.”
Suasana pembukaan berjalan khidmat, diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibawakan qariah asal Malaysia, Yanti Usanti. Rangkaian acara dilanjutkan dengan pembacaan Selawat Badar dan sambutan dari Ketua Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I), Abi Sahal Tantawi Waly.
Mewakili Pemerintah Aceh, Sekretaris Daerah Aceh, Muhammad Taufik, S.T., M.Si., menyambut hangat kehadiran para tamu undangan sekaligus menyampaikan salam takzim dari Gubernur Aceh, H. Muzakir Manaf. Dalam sambutannya, Taufik menyoroti pentingnya tasawuf dalam membentuk akhlak mulia sekaligus memperkaya kehidupan spiritual umat. Ia juga mengenang jejak keilmuan ulama terdahulu Aceh, seperti Syekh Hamzah Fansuri dan Syekh Abdurrauf as-Singkili, yang karyanya telah diakui dunia.
“Semoga pertemuan ini tidak sekadar menjadi diskusi semata, tetapi melahirkan gagasan yang nyata, memperkuat ikatan persaudaraan, dan menciptakan kedamaian yang dirasakan seluruh masyarakat,” ujar Taufik.
Tasawuf sebagai Jalan Memperindah Akhlak
Acara dilanjutkan dengan pemaparan tausiah oleh Abuya Amran Waly Al-Khalidi. Ia mengingatkan bahwa agama harus dipahami secara utuh – mencakup aspek akidah, keimanan, dan pembinaan jiwa. Menurutnya, kedudukan dan jabatan boleh dimiliki manusia, namun hati tidak boleh diperbudak oleh cinta dunia. Di sinilah peran tasawuf: membersihkan hati, menyempurnakan akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Pada kesempatan yang sama, dua karya tulis juga diluncurkan, yaitu buku Manisnya Beragama dan Dimensi Insan yang Sempurna.
Ulama Lintas Negara Hadir, Perkuat Jaringan Persaudaraan
Kehadiran ulama dari berbagai negara menjadi salah satu daya tarik utama acara ini. Di antaranya Dr. Aziz (Maroko), Syekh Zainul Asyri (Malaysia), Tuan Guru Prof. Dr. H. Fachruddin, Prof. Abdullah Rumaini (Turki), serta Syekh Ammar (Palestina).
Ketua Panitia, Abi Sahal Tastari Waly, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas partisipasi mereka. “Kehadiran para ulama ini bukan sekadar menghadiri undangan, tetapi mempererat jalinan ukhuwah yang melintasi batas negara,” ucapnya.
Momentum Bangkitkan Wisata Religi Aceh
Sekretaris Panitia, Tgk. Agus Ramadan, menilai penyelenggaraan muzakarah internasional ini memiliki dampak yang lebih luas daripada sekadar pertemuan keagamaan. Kegiatan ini dinilai mampu Semoga sesuai kebutuhan! mendongkrak sektor wisata religi sekaligus menggerakkan roda ekonomi masyarakat, mulai dari penginapan, transportasi, kuliner, hingga produk UMKM lokal.
“Harapan kami, ke depan muzakarah ini dapat tumbuh semakin besar – dihadiri ribuan, bahkan puluhan ribu orang – sehingga Aceh semakin dikenal sebagai destinasi wisata religi sekaligus pusat keilmuan Islam yang damai,” ungkapnya.
Mengukuhkan Aceh sebagai Serambi Mekkah
Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II ini bukan hanya tentang pertemuan antar tokoh agama. Lebih dari itu, forum ini menjadi sarana memperkenalkan kembali warisan keilmuan Islam Nusantara yang lahir dari tanah Aceh sekaligus meneguhkan posisi daerah ini sebagai salah satu pusat tradisi keislaman yang berpengaruh di kawasan ini.
Keberhasilan acara ini, kata para penyelenggara, tidak diukur dari kemeriahan semata, melainkan dari manfaat ilmu yang dipetik, eratnya persaudaraan antar umat, serta keteladanan perdamaian yang lahir dari setiap peserta yang hadir.|syehwan|












