Berita  

Kecam Pabrik Sabu di Pidie, Rizal Aiyubi Minta Jaringan Diusut Tuntas dan Masyarakat Bersatu Lawan Narkoba

PIDIE, ACEH, Cakrawarta – Terungkapnya keberadaan laboratorium narkotika ilegal berkapasitas besar di wilayah Pidie, Aceh, memicu kecaman keras. Rizal Aiyubi, selaku Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Bulan Bintang (PBB) Kabupaten Pidie, menyatakan penolakannya tegas terhadap keberadaan aktivitas tersebut di daerahnya. Ia menegaskan, kasus ini menjadi sinyal bahaya yang patut disikapi serius oleh semua pihak, mengingat dampak narkoba yang sangat mengancam masa depan masyarakat, terutama generasi muda.

Merupakan putra asli daerah ini, Rizal mengaku sangat kecewa sekaligus prihatin mendapati fakta tersebut. Menurut pandangannya, Pidie yang dikenal memiliki sejarah panjang dalam perjuangan bangsa dan melahirkan banyak tokoh terkemuka, tidak pantas sama sekali dikaitkan dengan kegiatan produksi maupun peredaran barang terlarang.

“Jangan jadikan Pidie sebagai ladang narkoba, apalagi sampai menjadi lokasi produksi sabu dalam skala besar. Saya sebagai putra asli Pidie sangat kecewa atas kejadian ini. Kita ingin generasi mendatang mengenang Pidie sebagai daerah para pejuang, bukan sebagai tempat yang merusak masa depan anak bangsa melalui narkoba,” tegas Rizal.

Apresiasi Langkah Aparat, Seruan Usut Tuntas Jaringan

Di sisi lain, Rizal menyampaikan apresiasinya kepada Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), Polda Aceh, Badan Narkotika Nasional (BNN), Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, serta seluruh tim yang telah bekerja keras membongkar kasus ini. Keberhasilan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menahan laju penyebaran narkoba yang semakin mengkhawatirkan di wilayah Aceh.

Berdasarkan informasi yang beredar dari pemberitaan, barang bukti yang berhasil diamankan mencapai sekitar 1,2 ton, terdiri dari metamfetamin dalam bentuk cair maupun kristal. Sementara itu, sebanyak 11 orang juga telah ditahan dalam rangkaian operasi yang dilakukan di beberapa lokasi di Aceh. Perincian data ini lanjut dirinya, tetap perlu dirujuk pada keterangan resmi yang disampaikan oleh pihak berwenang.

“Coba kita bayangkan jika 1,2 ton narkotika itu sampai beredar di Aceh. Berapa banyak generasi muda yang berpotensi menjadi korban? Kita tentu tidak sanggup membayangkan besarnya dampak yang dapat ditimbulkan terhadap keluarga, masyarakat, dan masa depan daerah kita,” ujarnya.

Oleh karena itu, Rizal mendesak aparat penegak hukum untuk memperluas penyidikan hingga ke akar-akarnya. Ia berharap identitas pemasok bahan baku, pihak yang membiayai, pengelola operasional, hingga jaringan distribusi dapat terungkap sepenuhnya. Penindakan ini, katanya, tidak boleh berhenti hanya pada penangkapan pelaku di lapangan, tetapi harus menyisir seluruh pihak yang terlibat hingga proses hukum berjalan tuntas.

“Kami berharap seluruh pihak yang terlibat dapat diungkap dan diproses sesuai hukum yang berlaku. Jangan sampai masih ada jaringan lain yang bebas beroperasi dan terus merusak generasi muda kita,” tegasnya.

Ajak Seluruh Komponen Bangun Kewaspadaan Bersama

Pemberantasan narkoba, lanjut Rizal, bukan hanya tugas aparat saja, melainkan tanggung jawab semua elemen bangsa. Ia pun mengajak masyarakat agar ikut berperan aktif menjaga lingkungan masing-masing dengan melaporkan hal-hal yang mencurigakan melalui saluran yang sah. Sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, tokoh agama, dunia pendidikan, dan seluruh warga menjadi kunci utama dalam menjaga wilayah Pidie dan Aceh dari ancaman narkotika.

Semoga terungkapnya kasus ini menjadi titik balik yang memperkuat tekad kita bersama untuk melindungi putra-putri daerah dari bahaya narkoba yang semakin nyata.

“Kami mendukung penuh upaya pemberantasan narkoba di Aceh. Jangan biarkan narkotika menghancurkan generasi muda dan merusak masa depan daerah kita. Mari bersama-sama menjaga Pidie dan Aceh agar tetap aman, bermartabat, serta menjadi Serambi Mekkah yang kita banggakan,” pungkas Rizal.|Syehwan|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *