Berita  

Lumpur Tutup Irigasi, Petani Menjerit Tanpa Alat Berat, Berpotensi Gagal Panen

ACEH SELATAN, Cakrawarta – Musim tanam Oktober 2026 seharusnya menjadi saat yang dinantikan puluhan petani di Desa Krueng Batu, Kecamatan Kluet Utara. Namun kenyataan berbicara lain: mereka justru dihadapkan pada saluran irigasi yang rusak parah, tertutup endapan lumpur tebal, dan nyaris tidak mampu mengalirkan air ke hamparan sawah.

Adapun saluran irigasi sekunder yang menjadi urat nadi pengairan wilayah itu kini kondisinya memprihatinkan. Endapan lumpur hitam menumpuk sedemikian rupa hingga hampir menyerupai daratan, menutup jalur air yang seharusnya mengalir ke saluran tersier. Semak belukar tumbuh lebat di sepanjang tepian saluran, sementara kerusakan paling parah terlihat di Dusun Guha Panton Seulaseh – di mana beberapa bagian saluran tertutup rapat lumpur padat dan dinding turapnya telah ambrol.

Akibatnya, air tidak dapat mengalir ke lahan pertanian warga. Tanpa pasokan air yang memadai, puluhan hektare sawah terancam gagal tanam.

Keujruen Blang Dusun Guha Panton Seulaseh, Abdurrahman, mengaku kecewa sekaligus putus asa. Kerusakan ini terjadi sejak lama, namun belum ada penanganan menyeluruh dari pihak berwenang.

“Setiap kali akan masuk musim tanam, begini nasib kami. Irigasi sudah rusak parah, endapan lumpur sudah setebal ini, ditambah semak belukar yang menutupinya,” ujar Abdurrahman saat ditemui di lokasi, Rabu (7/10/2026).

Karena tak kunjung ada tindakan dari pemerintah, para petani akhirnya bergerak sendiri. Dengan peralatan sederhana berupa cangkul dan sekop, mereka bekerja sama mengeruk lumpur secara manual serta menambal dinding yang jebol menggunakan karung berisi tanah dan pasir. Namun upaya ini diakui hanya mengobati penyakit sementara.

“Kami sangat kesulitan setiap kali hendak turun ke sawah. Yang kami butuhkan adalah pengerukan menyeluruh dengan alat berat. Harapan kami pemerintah segera turun tangan, bukan membiarkan kami mengurus sendiri seperti ini,” tegas Abdurrahman.

Ia memperingatkan, jika perbaikan tidak segera dilakukan, kekeringan akan melanda hamparan sawah yang luas dan kegagalan tanam tidak dapat dihindari. Para petani memohon kepada Dinas Pengairan serta Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan untuk segera turun ke lapangan sebelum kesempatan musim tanam terlewat begitu saja.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *