BANDA ACEH, Cakrawarta — Bahasa Aceh bukan sekadar alat komunikasi, melainkan identitas dan warisan budaya yang harus dijaga keberlangsungannya. Demikian ditegaskan Ari Maulana, mahasiswa Ilmu Hukum Universitas Syiah Kuala (USK) sekaligus aktivis budaya dan Duta Pariwisata Aceh, dalam siaran langsung RRI Pro 4 Banda Aceh, Kamis (10/9/2026).
Bertema “Ketika Bahasa Ibu Mulai Dianggap Kuno”, dialog yang dipandu penyiar Anggie tersebut mengangkat tantangan pelestarian bahasa daerah di tengah derasnya arus globalisasi dan dominasi media sosial.
Ari menyayangkan munculnya pandangan di kalangan generasi muda yang menganggap bahasa daerah sudah kuno dan tidak relevan. Menurutnya, pemikiran tersebut keliru karena bahasa menyimpan sejarah, nilai luhur, serta jati diri bangsa yang tidak ternilai harganya.
“Orang luar saja justru penasaran dan takjub mendengar bahasa Aceh. Mengapa kita sendiri yang malu menggunakannya?” ujar Ari di hadapan pendengar.
Pengalamannya mendampingi mahasiswa pertukaran internasional, termasuk dari Prince of Songkla University Thailand, membuktikan bahwa bahasa daerah justru menjadi daya tarik tersendiri. Ia saling bertukar bahasa dengan teman-teman asing — mempelajari bahasa asing sekaligus memperkenalkan bahasa Aceh kepada mereka.
“Bukan hanya mereka yang memiliki keunikan bahasa. Bahasa Aceh juga kaya dan berharga. Dari situlah kita bisa saling mengenal dan menghargai,” ungkapnya.
Ari menegaskan, mengunakan bahasa daerah tidak membuat seseorang tertinggal zaman. Sebaliknya, mampu berbahasa Aceh dengan bangga justru menunjukkan jati diri yang kuat di tengah kehidupan modern.
“Kita tetap bisa gaul, keren, dan mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan bahasa sendiri,” katanya.
Selama siaran berlangsung, sejumlah pendengar menelepon langsung memberikan dukungan dan apresiasi terhadap semangat pelestarian yang ditunjukkan Ari.
Menutup perbincangan, pemuda kelahiran Aceh ini mengutip pepatah lama: “Gadoh Aneuk Mupat Jrat, Gadoh Adat Pat Tamita”, jika anak hilang masih bisa dicari, tetapi jika adat hilang, ke mana hendak mencari?
Ia mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, untuk mulai melestarikan bahasa Aceh dari hal-hal sederhana, yaitu membiasakan menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Kerja sama semua pihak diharapkan agar bahasa Aceh tetap hidup dan diwariskan kepada generasi mendatang.|red|












