BANDA ACEH, Cakrawarta – Bagi Aipda Jonni Rahmad, makna menjadi seorang polisi jauh melampaui sekadar mengenakan seragam dan menjalankan tugas menjaga keamanan serta ketertiban masyarakat. Pengabdian baginya berarti hadir di saat warga membutuhkan, berbagi ketika memiliki, serta memberi pertolongan bahkan sebelum diminta.
Prinsip sederhana inilah yang terus ia jalani secara tulus. Di tengah masyarakat, sosok Aipda Jonni dikenal sebagai polisi yang dekat, peduli, dan senantiasa berupaya meringankan beban mereka yang sedang kesulitan. Saat ini, perwira yang lahir 15 Maret 1986 itu bertugas sebagai Pelaksana Tugas Kepala Seksi Urusan Polsek Panteraja, Polres Pidie Jaya, Polda Aceh. Sejak lulus Diktukba Polri tahun 2005, ia telah mencurahkan pengabdiannya sepenuhnya kepada Korps Bhayangkara sekaligus kepada masyarakat.
Sepanjang pengabdiannya, nama Jonni kerap mencatatkan prestasi dan memperoleh kepercayaan. Ia telah mengikuti berbagai pendidikan dan pelatihan, termasuk penyegaran bendahara pengeluaran pada 2015. Atas dedikasinya, sederet penghargaan pun disandang: Satyalancana Pengabdian 8 Tahun (2013) dan Satyalancana Pengabdian 16 Tahun (2021). Ia juga pernah menerima apresiasi dari Kapolres Pidie (2017), Kapolres Pidie Jaya (2020), Asisten SDM Polri beserta Kapolda Aceh (2021), hingga Kepala SPN Polda Aceh pada 2022.
Namun, deretan penghargaan itu bukan alasan utama langkah kakinya terus melangkah. Baginya, pengakuan yang jauh lebih berharga adalah senyum yang kembali terukir, beban yang terangkat, dan kehidupan yang menjadi lebih layak bagi mereka yang dibantunya.
Saat banjir melanda sejumlah wilayah pada akhir 2025 lalu, Jonni tak tinggal diam. Ia mendatangi anak-anak di daerah terdampak membawa Iqra dan Al-Qur’an, memastikan musibah tak memadamkan semangat mereka untuk tetap belajar dan mengaji. Menjelang Idulfitri, ia menyisihkan rezekinya guna membelikan pakaian baru bagi anak-anak yatim. Ia pun pernah membantu seorang anak penderita kebocoran jantung hingga dapat menjalani pengobatan ke Jakarta. Baginya, berbagi tak harus menunggu kaya; sedikit yang tulus, dapat berarti segalanya bagi yang membutuhkan.
Namun, satu pengabdiannya menyentuh lebih dalam: Jonni menyisihkan sebagian gajinya untuk membangun dan memperbaiki rumah warga kurang mampu. Hingga kini, empat rumah telah berdiri berkat tangannya, dan tiga rumah lainnya telah ia rehabilitasi. Rumah-rumah itu sederhana saja, namun bagi penghuninya, bangunan itu adalah perlindungan, ketenangan, sekaligus secercah harapan baru.
Jonni tak mencari pujian, tak pula mengejar nama. Semua tindakannya lahir dari hati yang tulus meyakini bahwa kepedulian adalah bagian tak terpisahkan dari pengabdian seorang Bhayangkara — hadir, memberi manfaat, tanpa mengharapkan balas jasa.
“Semua yang saya lakukan bukan untuk mencari popularitas atau dikenal banyak orang. Ini murni karena keinginan untuk membantu sesama. Sebagai anggota Polri, saya merasa wajib untuk hadir dan memberikan manfaat bagi masyarakat, terutama ketika ada saudara-saudara kita yang membutuhkan,” ujar Jonni, yang juga alumni SMK Negeri 2 Sigli itu, saat ditemui awak media, Selasa (25/8/2026).
Apa yang diperbuat Aipda Jonni Rahmad membuktikan satu hal: pengabdian seorang polisi tak berhenti saat seragam dilepas atau jam dinas usai. Di sela-sela waktunya, selalu ada ruang untuk berbuat lebih banyak, hadir lebih dekat, dan memberi makna nyata bagi sesama. Sebab baginya, menjadi polisi bukan hanya menjaga agar warga.|red|












