BANDA ACEH, Cakrawarta – Universitas Syiah Kuala (USK) melalui Unit Pelaksana Teknis Mata Kuliah Umum (UPT MKU) menyelenggarakan Festival Video Literasi, sebagai wujud luaran pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PjBL) pada seluruh Mata Kuliah Umum di lingkungan kampus.
Mengusung tema “Kompak Berprestasi, Literasi Berdampak”, kegiatan ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya memahami materi perkuliahan, tetapi mampu mengubah pengetahuan menjadi karya kreatif yang komunikatif dan bermanfaat bagi masyarakat.
Kepala UPT MKU USK, Dr. Herman R, S.Pd., M.Pd., menjelaskan pada Kamis (24/9/2026) bahwa festival ini dibuka bagi seluruh mahasiswa yang sedang memprogramkan mata kuliah umum pada semester ganjil 2026/2027.
“Karya video dikerjakan secara berkelompok di bawah bimbingan dosen pengampu masing-masing kelas. Hasil terbaik dari setiap kelas akan dipilih untuk diikutsertakan dalam lomba tingkat universitas,” ujarnya.
Enam mata kuliah umum yang menjadi cakupan kegiatan ini meliputi Bahasa Indonesia, Pendidikan Pancasila, Pendidikan Kewarganegaraan, Bahasa Inggris, Kebencanaan dan Lingkungan, serta Pendidikan Agama.
Menurut Herman, pembelajaran berbasis proyek memberi ruang bagi mahasiswa menghasilkan karya nyata, bukan sekadar menyerap materi. “Melalui produksi video, mahasiswa belajar bekerja sama, menyusun pesan, memanfaatkan teknologi digital, hingga menyampaikan gagasan kepada publik. Nilai-nilai ke-Syiahkualaan akan tampak nyata di sini,” tegasnya.
Setiap karya wajib mengangkat topik yang relevan dengan mata kuliah yang diambil, bebas dari unsur SARA maupun politik praktis, berdurasi 4–8 menit, format lanskap untuk YouTube, resolusi minimal 720p, serta mencantumkan logo USK, UPT MKU USK, dan Dikti Saintek Berdampak.
Ketua Pelaksana Festival, Muntasir, MA TESOL, menambahkan ajang ini juga memberi apresiasi berupa uang pembinaan dan piagam bagi para pemenang. Juara I berhak memperoleh Rp1.500.000, Juara II Rp1.300.000, dan Juara III Rp1.200.000 untuk masing-masing kategori mata kuliah.
“Ini bukan sekadar tugas perkuliahan, melainkan kompetisi yang bermutu. Kami ingin karya yang lahir benar-benar berdampak memperkuat literasi dan budaya kolaborasi di kalangan mahasiswa,” tutup Muntasir.|red|












