Berita  

Terkait Isu Puding di UTD RSUDYA Tapaktuan, BFLF Ajak Fokus Perbaiki Layanan Demi Jaga Semangat Pendonor Darah

ACEH SELATAN, Cakrawarta – Menanggapi sejumlah laporan terkait keluhan pendonor darah yang tidak mendapatkan makanan tambahan berupa puding di Unit Transfusi Darah (UTD) RSUD dr. H. Yuliddin Away (RSUDYA) Tapaktuan, Ketua Blood For Life Foundation (BFLF) Aceh Selatan, Gusmawi Mustafa, mengajak seluruh elemen masyarakat menyikapi hal ini dengan kepala dingin dan menjadikannya sebagai bahan perbaikan pelayanan, bukan untuk saling menyalahkan.

Gusmawi menyampaikan, jika memang benar terjadi kendala pasokan makanan tambahan, hal itu sebaiknya dilihat sebagai masalah yang harus segera dicarikan solusinya. Yang paling utama, kata dia, adalah memastikan kualitas pelayanan terus ditingkatkan agar para pendonor merasa dihargai dan nyaman setiap kali menyumbangkan darahnya.

“Pendonor darah adalah pahlawan kemanusiaan. Mereka datang dengan sukarela, tanpa pamrih sedikit pun, semata-mata ingin menyelamatkan nyawa orang lain. Sudah sewajarnya kita memberikan pelayanan yang terbaik kepada mereka,” ujar Gusmawi, Selasa (4/8/2026).

Ia menjelaskan, pemberian makanan tambahan bukan sekadar soal memberikan puding atau camilan semata. Hal itu merupakan bagian dari standar pelayanan yang memiliki fungsi penting bagi kondisi tubuh pendonor. Selain membantu memulihkan energi pasca pengambilan darah, asupan makanan juga berfungsi mencegah rasa lemas atau pusing, serta menjadi bentuk nyata apresiasi atas kepedulian mereka.

Lebih jauh, pelayanan yang ramah dan layak akan menciptakan pengalaman positif. Hal ini sangat berpengaruh agar pendonor bersedia kembali menyumbangkan darah secara rutin. Keberlangsungan stok darah yang aman dan cukup bagi masyarakat yang membutuhkan sangat bergantung pada keberadaan pendonor yang konsisten.

“Tujuan utama penyediaan makanan tambahan adalah menjaga kondisi fisik pendonor, memberikan asupan energi untuk pemulihan, meningkatkan kepuasan mereka, serta membangun budaya donor darah sukarela yang bisa berjalan terus-menerus,” tegasnya.

Pihak BFLF Aceh Selatan berharap semua pihak dapat bersinergi untuk memberikan pelayanan terbaik. Ketersediaan darah yang memadai tidak hanya ditentukan oleh banyaknya orang yang mau mendonorkan darah, tetapi juga bagaimana kita memperlakukan mereka agar mau kembali lagi.

“Jangan pernah remehkan perhatian kecil kepada pendonor. Bagi sebagian orang, puding mungkin hanya camilan biasa. Tapi bagi pendonor, perhatian seperti itulah yang membuat mereka merasa dihargai. Menjaga keberlanjutan donor darah tidak cukup hanya dengan mengajak orang menyumbang darah, melainkan bagaimana kita menghormati dan menjaga kenyamanan mereka agar tetap bersedia datang kembali demi menyelamatkan sesama,” pungkas Gusmawi.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *