Berita  

Cabe Rawit Sentuh Rp80 Ribu! Lonjakan Harga Bahan Pokok Bikin Pasar Inpres Tapaktuan Sepi Pengunjung

ACEH SELATAN, Cakrawarta – Lonjakan harga aneka sayuran yang terjadi belakangan ini membuat suasana Pasar Inpres tampak sepi dari kunjungan konsumen. Harga yang kian melangit membuat masyarakat enggan berbelanja dalam jumlah banyak, terlebih di tengah kondisi perekonomian rakyat yang dinilai semakin terpuruk.

Berdasarkan pantauan langsung di lokasi, Minggu (26/7/2026), sejumlah harga sayuran utama tercatat berada di tingkat yang cukup tinggi. Cabe merah dijual seharga Rp50.000 per kilogram, cabe rawit bahkan menyentuh angka Rp80.000 per kilogram. Sementara itu, tomat dipatok Rp18.000 per kilogram dan bawang merah mencapai Rp35.000 per kilogram.

Sayuran-sayuran tersebut merupakan bahan masakan yang sangat dibutuhkan oleh seluruh lapisan masyarakat, khususnya ibu rumah tangga untuk kebutuhan konsumsi sehari-hari. Namun tingginya harga membuat banyak warga akhirnya mengurangi pembelian atau menggantinya dengan alternatif lain yang lebih murah.

Ros, salah satu pedagang sayur di Pasar Inpres mengakui bahwa kenaikan harga ini sangat berdampak pada omzet dagangnya yang anjlok drastis.

“Kalau harganya sudah setinggi ini, otomatis dagangan jadi sepi. Akhirnya kami tidak berani mengambil stok barang terlalu banyak, takut tidak laku dan sayuran jadi busuk terbuang percuma,” ungkap Ros dengan nada kecewa.

Ia pun menyampaikan keluh kesahnya terkait pola pasokan yang berulang terjadi. Menurut pengamatannya, setiap kegiatan Makanan Bergizi Gratis (MBG) aktif kembali, harga sayuran di pasar pasti ikut naik.

“Kami para pedagang di sini justru tidak merasa untung. Sebab para pelaku MBG itu tidak berbelanja dari kami, melainkan mengambil pasokan langsung dari mobil pengangkut sayur yang datang dari arah Medan. Akibatnya, kami tidak berdaya untuk menentukan harga sendiri,” tegasnya.

Kondisi ini membuat pembeli yang biasanya datang berbelanja dalam jumlah banyak kini memilih cara lain. Warga lebih memilih membeli kebutuhan sayurnya secara sedikit demi sedikit atau per ons di warung-warung terdekat yang dianggap lebih ringan di kantong, meski sebenarnya harga per ons di warung tetap lebih mahal dibandingkan belanja dalam jumlah besar di pasar.

“Selama ini kami berharap masyarakat tetap datang berbelanja ke pasar seperti biasa. Tapi karena harga yang dipatok terlalu tinggi, daya beli masyarakat ikut turun. Akhirnya kami yang terpaksa menanggung kerugian akibat kondisi ini,” tutup Ros.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *