Berita  

Hari Kedua Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi: Tasawuf Kunci Perdamaian dan Persatuan Dunia

BANDA ACEH, Cakrawarta – Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II memasuki pembahasan hari kedua dengan fokus utama pada peran tasawuf dalam membangun persatuan umat, kerukunan antaragama, serta perdamaian dunia. Forum yang mempertemukan ulama, akademisi, dan cendekiawan lintas negara ini menegaskan bahwa nilai-nilai keihsanan, penyucian jiwa, dan akhlak mulia menjadi jawaban penting atas berbagai tantangan kehidupan masa kini.

Diskusi dalam sesi hari kedua menegaskan bahwa tasawuf tidak terbatas pada aspek spiritualitas pribadi semata. Lebih dari itu, tasawuf berperan sebagai fondasi pembentukan karakter, penguatan ukhuwah, penghormatan terhadap keberagaman, serta penyelesaian konflik melalui dialog dan kasih sayang.

Tiga narasumber internasional dari Maroko, Kamboja, dan Malaysia tampil membagikan pengalaman dan pandangan masing-masing terkait penerapan nilai-nilai tasawuf dalam kehidupan sosial dan pendidikan.

Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani — Tasawuf Jembatan Antarperadaban

Dari Maroko, Sheikh Dr. Aziz El Kobaiti Idrissi Al-Hassani – Presiden International Academic Center for Sufi and Aesthetic Studies (IACSAS) di Fez – menyampaikan bahwa penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan cinta kasih (mahabbah) adalah inti tasawuf yang membentuk manusia berakhlak. Perubahan sosial tidak cukup hanya dengan pembenahan lahiriah, melainkan harus disertai pemurnian niat, pembinaan batin, dan perbaikan perilaku.

Nilai kerendahan hati, penghormatan terhadap martabat manusia, dan kasih sayang dinilai dapat mempererat hubungan antarmasyarakat sekaligus mengurangi permusuhan. Tradisi tasawuf di Maroko dan Afrika Utara, kata dia, memiliki kontribusi besar dalam pengembangan keilmuan Islam dan pendidikan spiritual. Pengalaman keberagaman masyarakat Afrika juga dapat memperkaya dialog lintas benua, termasuk antara Afrika dan Asia Tenggara, dalam membangun peradaban yang damai.

H.E. Dr. Yob Ahskary – Tasawuf dan Kerukunan Antarumat Beragama

Sementara itu, H.E. Dr. Yob Ahskary (Asyary bin Aiyob), mantan Wakil Menteri Kementerian Kultus dan Agama Kamboja, membagikan pengalaman kehidupan komunitas Muslim Cham di tengah masyarakat mayoritas Buddha. Ia menekankan bahwa komunikasi terbuka, penghormatan terhadap perbedaan, dan dialog adalah kunci menjaga keharmonisan sosial.

Nilai-nilai tasawuf seperti kasih sayang, kebijaksanaan, dan akhlak mulia dinilai sangat relevan untuk memperkuat kepercayaan antarkelompok, mencegah prasangka, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial bersama.

Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib – Pendidikan Tasawuf di Era Modern

Dari Malaysia, Dato’ Haji Shushilil Azam bin Shuib membahas pentingnya mengintegrasikan tasawuf ke dalam sistem pendidikan modern. Mantan Direktur Divisi Internasionalisasi Pendidikan Tinggi Malaysia ini menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya mencetak kecerdasan intelektual, tetapi juga membangun kematangan spiritual dan karakter.

Konsep moderasi (wasathiyah), sikap tidak berlebihan (zuhud), dan persaudaraan (ukhuwah) dipandang sebagai penyeimbang agar kemajuan ilmu pengetahuan sejalan dengan pembentukan akhlak. Penguatan pendidikan tasawuf juga dinilai strategis untuk menjawab krisis identitas dan moral yang dialami generasi muda saat ini.

Menuju Rekomendasi Bersama

Pembahasan hari kedua dihadiri oleh peserta dari berbagai latar belakang negara dan organisasi keagamaan. Kesepakatan yang mengemuka: perdamaian dunia tidak hanya bergantung pada pendekatan politik dan ekonomi, melainkan juga penguatan moral dan spiritual.

Panitia menyatakan seluruh masukan dari diskusi hari kedua akan dirumuskan menjadi rekomendasi bersama yang akan dibacakan pada sesi penutup muzakarah. Rekomendasi tersebut diharapkan menjadi panduan bagi penguatan pendidikan spiritual, perluasan dialog antarperadaban, serta kerja sama berkelanjutan di antara ulama dan cendekiawan Muslim dunia.|syehwan|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *