Berita  

21 Negara Akan Hadiri Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II di Banda Aceh

BANDA ACEH, Cakrawarta – Banda Aceh siap kembali menjadi pusat pertemuan ulama dan tokoh keagamaan dari berbagai belahan dunia. Muzakarah Internasional Ulama Tauhid Sufi ke-II tahun 2026 akan berlangsung selama tiga hari, mulai 9 hingga 11 Oktober 2026, tersebar di dua lokasi utama: Lapangan Blang Padang dan Balai Meuseuraya Aceh.

Kegiatan kali ini mengusung tema “Mengangkat Ajaran Sufi untuk Persatuan dan Perdamaian Umat”, dengan sasaran menghadirkan peserta dari 21 negara. Di antara negara yang telah dipastikan hadir antara lain Indonesia, Turki, Maroko, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Arab Saudi, Suriah, Mesir, Palestina, Iran, Kamboja, hingga Uzbekistan.

Jejaring peserta mencakup kawasan Asia Tenggara, Timur Tengah, Asia Tenggara, hingga Afrika Utara — menjadikan pertemuan ini salah satu forum keagamaan terluas yang diselenggarakan di Aceh dalam beberapa tahun terakhir.

Adapun dua Lokasi, Satu Tujuan

Rangkaian kegiatan dibagi menjadi dua ruang yang saling melengkapi:

  1. Lapangan Blang Padang menjadi ruang terbuka untuk masyarakat luas, berisi pembukaan, tabligh akbar, zikir raya, dan doa bersama — terutama pada 9 Oktober 2026.
  2. Balai Meuseuraya Aceh menjadi pusat diskusi keilmuan khusus bagi para ulama, berlangsung 10–11 Oktober 2026, membahas tauhid, tasawuf, dan kesufian.

Pembagian ini dirancang agar kegiatan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat umum sekaligus memperdalam wacana keilmuan di kalangan tokoh agama.

Menghubungkan Tradisi Keilmuan Aceh dengan Dunia

Pemilihan Aceh sebagai tuan rumah bukan kebetulan. Sejarah panjang Aceh sebagai pusat perkembangan Islam di Nusantara — dengan jaringan pendidikan dayah, masjid, dan ulama — menjadikan wilayah ini tempat yang tepat untuk pertemuan lintas negara.

Sekretaris Jenderal Yayasan Cakra Donya Atjeh, Irwan Syahputra atau yang akrab disapa Syech Wan, menyatakan bahwa pertemuan ini bukan sekadar ajang berkumpul.

“Bagi Aceh, kedatangan ulama dari berbagai daerah dan negara bukan sekadar momen berkumpul, melainkan bagaimana ilmu, pengalaman, dan tradisi keislaman dapat dipertemukan dalam suasana damai. Yang terpenting, pesan persatuan dan perdamaian ini benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas, bukan berhenti di dalam forum saja,” ujarnya.

Dukungan Meluas, Lebih dari 100 Relawan Siap Bertugas

Persiapan teknis juga terus dimaksimalkan. Yayasan Cakra Donya Atjeh bersama SEKBER Aceh Relawan Pemenangan Mualem–Dek Fadh dan Majelis Pengkajian Tauhid Tasawuf Indonesia (MPTT-I) menyiapkan lebih dari 100 relawan untuk membantu pelayanan peserta, ketertiban, kebersihan, serta dukungan teknis selama kegiatan.

Dukungan juga datang dari pemerintah daerah lain, antara lain Bupati Simeulue Mohammad Nasrun Mikaris serta Ketua DPRD Provinsi Gorontalo Idrus M. Thomas Mopili, yang masing-masing menyatakan dukungan terhadap kegiatan yang mengusung semangat persatuan, ukhuwah, dan perdamaian umat.

Kini memasuki hitungan hari pelaksanaan, Banda Aceh bersambut menyambut kedatangan ulama dan peserta dari 21 negara. Harapannya, pertemuan ini tidak hanya memperkuat silaturahmi antarumat beragama di berbagai kawasan, tetapi juga memperkenalkan tradisi keilmuan Islam Aceh kepada dunia.|red|

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *