BANDA ACEH, Cakrawarta – — Fenomena “cuma bercanda” yang kerap dijadikan alasan setelah melontarkan perkataan atau tindakan menyakiti, dibahas secara mendalam dalam kegiatan Kajian An-Nisa (Kajum) bertajuk “Spill Deeps: Candaan atau Kezaliman Berkedok ‘Cuma Jokes’?”. Kegiatan berlangsung di Mushola SMAN 4 Banda Aceh, Jumat (2/10/2026), dan diikuti para siswi kelas X-5, X-6, X-7, X-8 serta terbuka untuk masyarakat umum.
Mengangkat isu yang dekat dengan keseharian remaja, kajian ini mengajak peserta memahami batas tegas antara candaan, pembicaraan pribadi orang lain, dan perilaku yang merendahkan serta menyakiti.
Penceramah kegiatan, Ustazah Ir. Febi Mutia, S.T., M.Sc. — yang juga dosen Teknik Pertambangan Universitas Syiah Kuala — menyampaikan materi dengan pendekatan yang relevan dengan kehidupan nyata peserta. Ia menekankan pentingnya menjaga lisan, menghargai perasaan orang lain, serta membangun komunikasi yang bijak baik di lingkungan pertemanan maupun di media sosial.
“Sesuatu yang dianggap lucu oleh satu orang, belum tentu tidak menyakitkan bagi orang lain. Candaan tetap memiliki batas,” tegasnya.
Kegiatan turut didampingi guru PAI pendamping, yaitu Yetty Mulyati, S.Pd., Hayatunnufus, S.Pd.I., dan Nelli, S.Pd. Kehadiran para pendamping diharapkan menciptakan suasana diskusi yang terbuka, nyaman, dan saling mendukung.
Melalui kajian ini, para peserta diharapkan tak hanya memperoleh pemahaman keagamaan, tetapi juga mampu membangun pertemanan yang sehat, saling menghormati, dan bebas dari kebiasaan merugikan orang lain. Kegiatan ditutup dengan ajakan agar generasi muda terbiasa berpikir sebelum berbicara, bijak berinteraksi, dan berani menghentikan kebiasaan yang berpotensi menyakiti sesama.|red|












