GANDAPURA, Cakrawarta – SMKN 1 Gandapura menggelar pengenalan rempah-rempah Aceh yang bertajuk “Pesona Rempah Aceh: Kekayaan Lokal untuk Kesehatan Global”, Selasa (15/9) di halaman upacara sekolah. Rempah-rempah kering dan basah dihias dipadukan dalam satu talam ditempatkan di tikar motif Aceh yang telah disusun rapi.
Kegiatan ini bagian dari komitmen SMKN 1 Gandapura dalam menciptakan generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga memiliki pengetahuan dan kecintaan terhadap kekayaan alam dan budaya Aceh.
Kegiatan ini dapat mengedukasi siswa SMKN 1 Gandapura agar dapat memanfaatkan potensi dari rempah-rempah Aceh. Jadi rempah-rempah itu bukan romantisme masa lalu, tapi rempah-rempah adalah masa depan.
Menurut kepala SMKN 1 Gandapura Feri Irawan SSi MPd, pengenalan rempah-rempah ini bertepatan dengan kedatangan Tim Penilai UKS/M/D Kabupaten Bireuen ke sekolah.
Lalu, apa hubungannya memamerkan rempah-rempah dengan penilaian sekolah sehat? Hubungan keduanya terletak pada implementasi Trias UKS, khususnya pada poin Pendidikan Kesehatan dan Pelayanan Kesehatan Lingkungan.
Tim penilai UKS biasanya memeriksa apakah sekolah memiliki taman tanaman obat. Rempah-rempah seperti jahe, kunyit, kencur, serai, dan lengkuas sering diwajibkan ada sebagai sarana edukasi bagi siswa.
Sebagaimana kita ketahui, jelas Feri Irawan, rempah Aceh adalah harta karun lokal yang telah beralih dari komoditas perdagangan kuno menjadi pilar penting kesehatan global. Berada di titik strategis Selat Malaka, Aceh sejak abad ke-14 telah diakui dunia sebagai pusat perdagangan komoditas terbaik seperti lada hitam, pala, dan cengkih. Seiring berkembangnya sains moderen, pesona rempah Aceh kini tidak lagi sekadar bumbu dapur di panggung kuliner internasional. Khasiat alaminya telah diteliti secara global sebagai alternatif solusi kesehatan, mulai dari pengobatan herbal, suplemen imunitas, hingga bahan baku kosmetik premium, jelasnya
“Manuskrip kuno Aceh seperti Kitab Arrahmah, Tajul Muluk, dan Mujarabat telah lama mencatat penggunaan rempah sebagai fondasi medis. Beberapa komoditas unggulan Aceh, seperti Lada Hitam dan Putih, Pala, Cengkeh, Minyak Nilam, Manjakani hingga Jintan Jitam diakui memiliki manfaat besar bagi dunia medis kontemporer,” jelas Feri Irawan.
Lebih lanjut, Feri, dalam era modern saat ini, pengolahan rempah Aceh telah bergeser ke arah ekstraksi biomedis. Konsumen global kian memprioritaskan gaya hidup organik dan mencari alternatif obat-obatan berbahan kimia sintetik. Pala misalnya, rempah ini sangat cocok untuk sedatif alami dan kesehatan saraf. Sementara, Cengkih menjadi target kesehatan global aktioksidan, kesehatan hati dan tulang.
Keberadaan rempah tidak hanya penting dalam menghasilkan makanan yang lezat, tetapi juga menjadi bagian dari identitas kuliner masyarakat Aceh. Pengetahuan mengenai penggunaan rempah yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi salah satu kekuatan yang membuat masakan Aceh memiliki karakter berbeda.
Kekayaan rempah Aceh tidak berhenti sebagai warisan masyarakat lokal, tetapi dapat terus dikembangkan menjadi potensi ekonomi. Pengembangan tersebut dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi pelaku UMKM untuk mengolah dan memasarkan produk kuliner mereka.
“Alasan inilah, kami SMKN 1 Gandapura menggelar Pesona Rempah Aceh pada Penilaian Lomba Sekolah Sehat tingkat kabupaten Bireuen. Bertemakan Kekayaan Lokal untuk Kesehatan Global, berfokus pada pelestarian warisan budaya Aceh. Rempah yang dipamerkan ada Rempah asli dan rempah basah. Adapun Rempah Kering ada Kayu manis, cengkih, kapulaga, ketumbar, lada, dan pala. Sementara Rempah Segar ada Jahe, kunyit, lengkuas, serai, dan kencur,” ungkap Kepala SMKN 1 Gandapura.
Kepala SMKN 1 Gandapura, Feri Irawan berharap siswa dapat lebih men…












