Editorial : Melawan Lupa

Ilustrasi

By : Dahyati

Cakrawarta – Lupa adalah sifat manusiawi. Namun ketika lupa menjadi kebiasaan, bahkan gaya hidup yang dijalani secara sadar tanpa rasa bersalah, maka itu bukan lagi sekadar kelemahan ingatan – itu adalah kemunduran nurani.

Hari-hari ini kita seakan hidup di tengah arus yang membuat kita mudah melupakan banyak hal. Kita lupa janji yang pernah diucapkan. Kita lupa tanggung jawab yang diemban. Kita lupa kewajiban sebagai warga, sebagai pemimpin, sebagai tetangga, sebagai manusia. Bukan karena ingatan kita melemah, tetapi karena kita terbiasa mengutamakan kepentingan sesaat di atas segalanya.

Lupa terhadap kewajiban adalah bentuk pengkhianatan kecil yang dilakukan setiap hari. Pejabat yang lupa janji kampanye saat sudah duduk di kursi kekuasaan; warga yang lupa aturan bersama demi kenyamanan sendiri; mereka yang diberi kepercayaan namun mengabaikan amanah demi keuntungan pribadi. Semua itu dibungkus dengan alasan-alasan yang terdengar masuk akal, padahal intinya sama: kita lebih memedulikan diri sendiri daripada orang lain.

Lupa terhadap peristiwa adalah luka yang berbahaya. Ketika kita lupa bagaimana kedahsyatan bencana mengajarkan kita untuk saling bergotong royong, ketika kita lupa betapa mahalnya kemerdekaan yang direnggut dari keringat dan darah para pendahulu, ketika kita lupa bahwa kemajuan bersama hanya bisa diraih jika kita berdiri berdampingan – maka sejarah akan terulang, bukan sebagai pelajaran, melainkan sebagai bencana baru.

Melawan lupa bukan sekadar usaha menguatkan ingatan. Itu adalah upaya menjaga jati diri. Mengingat berarti tetap memegang prinsip meski tidak ada yang melihat. Mengingat berarti menepati janji meski itu berat dan merugikan diri sendiri. Mengingat berarti menghormati masa lalu sambil bekerja membangun masa depan yang lebih baik.

Mungkin tidak semua hal harus kita ingat. Namun ada hal-hal yang wajib terus kita jaga di dalam hati: janji, amanah, kebaikan yang pernah kita terima, dan tanggung jawab yang kita pikul di pundak masing-masing.

Mari kita mulai hari ini. Jangan biarkan kenyamanan membuat kita lupa siapa kita dan untuk apa kita ada di sini. Karena bangsa yang melupa adalah bangsa yang tersesat – dan manusia yang melupa adalah manusia yang kehilangan arah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *